Premis Mayor : berusaha berbenah diri adalah ciri kehidupan positif
Premis Minor : anak baik, selalu berusaha berbenah diri
..... Kata orang, dalam hidup kita hanya punya satu reputasi. Kalau tidak jadi orang baik, ya jadi orang jahat. Kalau tidak pegawai negeri, ya swasta, kalau bukan KPK; ya Kapolri, Kalau bukan anak mami ya anak papi, kalau bukan penjahit, ya tentu saja penjahat.:D) Dan tidak ada sejarahnya juga ada manusia baik tapi hanya setengahnya saja baiknya, bisa dikatakan semikonsisten, atau ada juga sebutan separo malaikat dan separonya lagi jin. Bah …apapula itu !(suara dari kamar sebelah seraya ikut berargumen).
........Tapi yang terjadi adalah, saya merasa pengecualian dari asumsi-asumsi diatas. Kalau kemarin saya bisa jadi begitu malaikatnya dimata beberapa orang, besoknya saya benar-benar bisa mendapat predikat rajahantu dari seluruh ibu-ibu PKK sekelurahan. Jika dihari senin saya bisa berpatriosasi dihadapan kepala kantor dengan mengibarkan bendera kebanggaan negeri ini, sorenya saya bisa dicap superpengkhianat lantaran mengibarkan bendera setengah tiang dihalaman rumahnya + membocorkan aib terbesar bos saya itu : tentang atap rumahnya yang bocor.
....... Jika dititik ini anda belum memahaminya juga, pantaslah. Pikiran ini sedang ingin berkudeta, ketukan not-not keyboard ini hanya memfasilitasinya saja. Jangan dihakimi, dia tidak bersalah !
........Tapi yang terjadi adalah, saya merasa pengecualian dari asumsi-asumsi diatas. Kalau kemarin saya bisa jadi begitu malaikatnya dimata beberapa orang, besoknya saya benar-benar bisa mendapat predikat rajahantu dari seluruh ibu-ibu PKK sekelurahan. Jika dihari senin saya bisa berpatriosasi dihadapan kepala kantor dengan mengibarkan bendera kebanggaan negeri ini, sorenya saya bisa dicap superpengkhianat lantaran mengibarkan bendera setengah tiang dihalaman rumahnya + membocorkan aib terbesar bos saya itu : tentang atap rumahnya yang bocor.
....... Jika dititik ini anda belum memahaminya juga, pantaslah. Pikiran ini sedang ingin berkudeta, ketukan not-not keyboard ini hanya memfasilitasinya saja. Jangan dihakimi, dia tidak bersalah !
....... Sejak kecil, tepatnya menjelang kenaikan kelas 3 SD, saya sudah terbiasa hidup mandiri. Bukan lantaran didikan nenek saat itu, atau gerakan swasembada yang di usung kepala desa pada masa itu (sesuai dengan logo pohon beringinnya itu). Tapi, keadaanlah yang memaksa hal itu terjadi. Dan sepertinya hal itu terbentuk hingga sekarang, sepertinya.
....... Mencari kayu dihutan, menjala ikan, berjualan sayur-mayur hasil tangan sendiri berkeliling desa, sudah biasa saya lakukan. Ilmu yang tak mungkin bisa terulang lagi untuk mendapatkannya. Sebuah masa-masa perintisan kehidupan saya dengan ibu, hasta demi hasta, bata demi bata, lantai dan terus sampai ke atapnya. Dan sisa perjuangan ini kini telah berpindah tangan tanpa sepengetahuan, tanpa hasil sepeserpun.
........ Ok ! itu masa lalu, tak perlu didramatisir. Ini tak akan happy ending seperti sebuah sinetron. Belum !
....... Pendek cerita, bagaimana awal ceritanya saya kemudian hijrah ke ibukota. Sebuah awal yang buruk dalam perjalanan hidup sebuah kehidupan. Pendek cerita lagi, kami ( I and father ) 5 menit menuju terminal Pulo Gadung, membawa hasil penjualan panen di kampung halaman. Kami kecopetan (dengan uang berjuta-juta yang besar nilainya saat itu) ! tepatnya DIRAMPOK malah ! ......mulai seperti sinetron khan. Ok, CUT !
........ Dari sisi ini, nampaknya ibukota tak mengharap kehadiran saya. Bukan lantaran kapasitas kota ini telah penuh. Tapi, ketakutan tak bisa bertahan membuat ibukota terpaksa jadi sekejam ibu tiri. Siapa suruh datang Jakarta ! kata isi sebuah lagu lama.
Saat itu, saya terus menatap kedepan. Mengambil sisi positifnya.
...... Blok demi blok, flat demi flat, pergantian RT sampai gulung tikarnya Pa Lurah bermata sipit lantaran ditengarai selingkuh dengan janda muda, hingga kongkalikong penurunan ketua sebuah Karang Taruna organisasi kepemudaan. Hidup kami masih terus saja berpindah-pindah. Lantainya saja tak pernah bisa digunakan untuk bercermin. Satu lagi : untuk MCK menggunakan sistim nomor antrian. Persis seperti dikantor perpajakan. ”Nomor antrian No. 213 silahkan menuju loket 3, jangan lagi meninggalkan celana dalem di kamar mandi, bau SANGIT tahuk” Kadang-kadang, sudah ngantri lama, yang lagi mandi didalam malah terdengar sayup-sayup setengah mendengkur.
.........Menginjak bangku SLTP, kemandirian saya terus tercermin. Menjadi petugas parkir diacara kawinan tetangga, wasit pertarungan catur tujuhbelasan. Dan yang paling melekat adalah berjualan surat kabar dan majalah keliling, toko demi toko plaza demi plaza, perumahan wah dan terus sampai ujung portal perkampungan kota ( berjualan koran dilakoni selama 3 tahun). Kadang, saya juga mengamen diprapatan lampu merah Pondok Pinang. Memang usia saat itu, masih belum mengenal adanya GENGSI. Sayang, kenapa sekarang jadi begini ya, otak jadi tak bisa berkembang. Salah langkah sedikit yang dikhawatirkan lebih dulu adalah reputasi. Kata gengsi membuat pikiran kita jadi sedikit lebih sempit.
....... Bagi anda yang memang seorang pendatang seperti saya, hampir 10 % nasib kita mungkin tak jauh berbeda. Haha..... kalimat ini hanya pelarian saja, saya hanya ingin mencari tempat berbagi, biar beban agak berkurang, biar penat sedikit berlalu. Kita khan Genk ! betul....betul...betul....
..... 7 tahun kemudian
Selepas tamat sekolah lanjutan. Masa-masa sulit saya kian akut. Akut akut dan (t)akut.
Predikat saya sekarang : PARASIT
..... Hidup semipermanen seperti benalu, bisa menyumbat hidung orang seperti sampah, menghisap darah, menghantui, biang keonaran, sumber kegaduhan, palang kemerosotan, pionir keporakporandaan, dalang huruhara, otak segala kekacauan, mata-mata kaum pecundang,
Itulah saya ! Jadi jika anda telah tergugah. Pilih saya, KETIK REG spasi MAKAM untuk mendoakan saya cepat menuju surga. Dengan catatan anda bersedia dan siap menemani.
...... Nama saya memang bukan RASIT, tapi saya bisa dipanggil PAK RASIT. Saya doyan mie PANGSIT, saya hobi menjadi WASIT. Dan dua hari lalu dokter mengatakan otak saya sedang SAKIT !
....... Mencari kayu dihutan, menjala ikan, berjualan sayur-mayur hasil tangan sendiri berkeliling desa, sudah biasa saya lakukan. Ilmu yang tak mungkin bisa terulang lagi untuk mendapatkannya. Sebuah masa-masa perintisan kehidupan saya dengan ibu, hasta demi hasta, bata demi bata, lantai dan terus sampai ke atapnya. Dan sisa perjuangan ini kini telah berpindah tangan tanpa sepengetahuan, tanpa hasil sepeserpun.
........ Ok ! itu masa lalu, tak perlu didramatisir. Ini tak akan happy ending seperti sebuah sinetron. Belum !
....... Pendek cerita, bagaimana awal ceritanya saya kemudian hijrah ke ibukota. Sebuah awal yang buruk dalam perjalanan hidup sebuah kehidupan. Pendek cerita lagi, kami ( I and father ) 5 menit menuju terminal Pulo Gadung, membawa hasil penjualan panen di kampung halaman. Kami kecopetan (dengan uang berjuta-juta yang besar nilainya saat itu) ! tepatnya DIRAMPOK malah ! ......mulai seperti sinetron khan. Ok, CUT !
........ Dari sisi ini, nampaknya ibukota tak mengharap kehadiran saya. Bukan lantaran kapasitas kota ini telah penuh. Tapi, ketakutan tak bisa bertahan membuat ibukota terpaksa jadi sekejam ibu tiri. Siapa suruh datang Jakarta ! kata isi sebuah lagu lama.
Saat itu, saya terus menatap kedepan. Mengambil sisi positifnya.
...... Blok demi blok, flat demi flat, pergantian RT sampai gulung tikarnya Pa Lurah bermata sipit lantaran ditengarai selingkuh dengan janda muda, hingga kongkalikong penurunan ketua sebuah Karang Taruna organisasi kepemudaan. Hidup kami masih terus saja berpindah-pindah. Lantainya saja tak pernah bisa digunakan untuk bercermin. Satu lagi : untuk MCK menggunakan sistim nomor antrian. Persis seperti dikantor perpajakan. ”Nomor antrian No. 213 silahkan menuju loket 3, jangan lagi meninggalkan celana dalem di kamar mandi, bau SANGIT tahuk” Kadang-kadang, sudah ngantri lama, yang lagi mandi didalam malah terdengar sayup-sayup setengah mendengkur.
.........Menginjak bangku SLTP, kemandirian saya terus tercermin. Menjadi petugas parkir diacara kawinan tetangga, wasit pertarungan catur tujuhbelasan. Dan yang paling melekat adalah berjualan surat kabar dan majalah keliling, toko demi toko plaza demi plaza, perumahan wah dan terus sampai ujung portal perkampungan kota ( berjualan koran dilakoni selama 3 tahun). Kadang, saya juga mengamen diprapatan lampu merah Pondok Pinang. Memang usia saat itu, masih belum mengenal adanya GENGSI. Sayang, kenapa sekarang jadi begini ya, otak jadi tak bisa berkembang. Salah langkah sedikit yang dikhawatirkan lebih dulu adalah reputasi. Kata gengsi membuat pikiran kita jadi sedikit lebih sempit.
....... Bagi anda yang memang seorang pendatang seperti saya, hampir 10 % nasib kita mungkin tak jauh berbeda. Haha..... kalimat ini hanya pelarian saja, saya hanya ingin mencari tempat berbagi, biar beban agak berkurang, biar penat sedikit berlalu. Kita khan Genk ! betul....betul...betul....
..... 7 tahun kemudian
Selepas tamat sekolah lanjutan. Masa-masa sulit saya kian akut. Akut akut dan (t)akut.
Predikat saya sekarang : PARASIT
..... Hidup semipermanen seperti benalu, bisa menyumbat hidung orang seperti sampah, menghisap darah, menghantui, biang keonaran, sumber kegaduhan, palang kemerosotan, pionir keporakporandaan, dalang huruhara, otak segala kekacauan, mata-mata kaum pecundang,
Itulah saya ! Jadi jika anda telah tergugah. Pilih saya, KETIK REG spasi MAKAM untuk mendoakan saya cepat menuju surga. Dengan catatan anda bersedia dan siap menemani.
...... Nama saya memang bukan RASIT, tapi saya bisa dipanggil PAK RASIT. Saya doyan mie PANGSIT, saya hobi menjadi WASIT. Dan dua hari lalu dokter mengatakan otak saya sedang SAKIT !
- Lebih mensyukuri hidup
.......... Manusia memang selalu tak pernah ada puasnya, tak terkecuali saya. Dikasih seratus kita malah minta dua ratus, dikasih roda dua mengharap yang beroda tiga, digodain anak Pak RT tetep maunya sama anak pak RW, dan sebagainya.
- Hidup lebih teratur
Seperti :
jam belajar, jam kerjaan, jam keluarga, jam persahabatan. Jadi jangan kerja pas jam belajar, tidak belajar pada saat jam kerja. Nah bingun kan ? Sama kalo gtu !
- Skala Prioritas
- Jangan banyak mengeluh
........... Ini...ini yang harus dijadikan catatan gelap 2009 kemarin, saya banyak dan sering banget mengeluh. Kerjaan bikin liyer, tiap hari ketemu orang yang berbeda, masalah yang timbul berbeda juga, sering kalah berargumen (meski yakin diposisi ”kanan”), keluarga corat marit, nyokap lg urus perceraian, adik kecil lg bandel-bandelnya, yang tengah bolos sekolah mulu (padahal perempuan-tapi sejak kapan juga bandel bisa diwariskan sih, dulu saya memang cukup sering cabut pas jam sekolah, nongkrong, main biliar, ngegat anak sekolahan sebelah, dsb), padahal dah mau ujian akhir tuh dia, Akh ! kenapa jadi kaya sinetron gini...Ok focus ! eh tapi denger-denger cinta fitri dah mau season 5 yach...
-Kurangi Ngupil
........... Ini masukan dari temen deket ”bisa dibilang spesial”. Dia adalah .......pak RT tercinta kita. Ta-daa !. *pake ekspresi kaget dong*
- Konsisten dan disiplin dalam berprinsip
............ Saya sering dipaksa-paksa ”nyanduin nikotin” sama temen-temen, ditawarin BIR sama temen sekost, ngopi yang dah dicampur saridanpuspa, diajak yang gak bener dech pokoknya. Tapi prinsip tetaplah prinsip. Kita boleh berteman dengan siapa saja, entah pejabat, penjahat atau penjahit. Kaum berdasi atau ahli pendosa. Tapi prinsip hidup harus tetap kita tegakan, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Merdeka !
.......... Segitu dulu dech, kapan-pakan akan saya tambahin (kalau inget dan masih ada umur) saya mulai agak emosional nih. Dan lagi pula hari ini kata dokter saya tak boleh terlalu cape katanya, termasuk juga pikiran. Eh, tapi tunggu sebentar dech !, kamu yang masih baca tulisan ini, iya kamu, et dech iya kamu.....
Ngapain masih baca tulisan ini, et dech masih pelanga-pelongo lagi, lah masih baca juga, iya kamu, gak usah pake nengok-nengok kebelakang segala dech.
Pertanyaan saya : kalau kamu masih asik duduk manis depan komputer, lah itu yang jaga parkiran siapa ???
ps : ditulis hari minggu, diposting hari senin
- Hidup lebih teratur
Seperti :
- Bangun lebih pagi (rekor bangun terpagi 2009. 06.30*)
- Membiasakan tidak ”menyapa” anak tetangga menjemur pakaian di pagi hari sebelum berangkat kerja (tapi agak susah juga sih, terlebih saya cepet deket dan akrab sama siapa aja)
- mengganti kaos kaki minimal 2 hari sekali (ada sekitar belasan surat pengaduan dari tetangga perihal bau tak sedap dari rak sepatu depan rumah, mereka bilang kalau bisa aromanya diganti, katanya biar bisa jadi aromaterapi juga
jam belajar, jam kerjaan, jam keluarga, jam persahabatan. Jadi jangan kerja pas jam belajar, tidak belajar pada saat jam kerja. Nah bingun kan ? Sama kalo gtu !
- Skala Prioritas
- Pendidikan (saat ini : ekonomi akuntansi 1 – Universitas Pamulang)
- Keluarga (saat ini : satu KO, dua imbang, sisanya seri)
- Karier (saat ini : office boy, soalnya bisa terima segala jenis kerjaan, mulai jagain bayi tetangga, ngangkatin jemuran saat yang punya gak sempet ngangkat, kuli panggul semi permanen – dulu bulan puasa, panas-panasnya disuruh bos buangin puing reruntuhan gedung, ) –dah, kalo dipanjangin, jatohnya malah curhat.
Selain itu ”mingaaaat”
- Jangan banyak mengeluh
........... Ini...ini yang harus dijadikan catatan gelap 2009 kemarin, saya banyak dan sering banget mengeluh. Kerjaan bikin liyer, tiap hari ketemu orang yang berbeda, masalah yang timbul berbeda juga, sering kalah berargumen (meski yakin diposisi ”kanan”), keluarga corat marit, nyokap lg urus perceraian, adik kecil lg bandel-bandelnya, yang tengah bolos sekolah mulu (padahal perempuan-tapi sejak kapan juga bandel bisa diwariskan sih, dulu saya memang cukup sering cabut pas jam sekolah, nongkrong, main biliar, ngegat anak sekolahan sebelah, dsb), padahal dah mau ujian akhir tuh dia, Akh ! kenapa jadi kaya sinetron gini...Ok focus ! eh tapi denger-denger cinta fitri dah mau season 5 yach...
-Kurangi Ngupil
........... Ini masukan dari temen deket ”bisa dibilang spesial”. Dia adalah .......pak RT tercinta kita. Ta-daa !. *pake ekspresi kaget dong*
- Konsisten dan disiplin dalam berprinsip
............ Saya sering dipaksa-paksa ”nyanduin nikotin” sama temen-temen, ditawarin BIR sama temen sekost, ngopi yang dah dicampur saridanpuspa, diajak yang gak bener dech pokoknya. Tapi prinsip tetaplah prinsip. Kita boleh berteman dengan siapa saja, entah pejabat, penjahat atau penjahit. Kaum berdasi atau ahli pendosa. Tapi prinsip hidup harus tetap kita tegakan, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Merdeka !
.......... Segitu dulu dech, kapan-pakan akan saya tambahin (kalau inget dan masih ada umur) saya mulai agak emosional nih. Dan lagi pula hari ini kata dokter saya tak boleh terlalu cape katanya, termasuk juga pikiran. Eh, tapi tunggu sebentar dech !, kamu yang masih baca tulisan ini, iya kamu, et dech iya kamu.....
Ngapain masih baca tulisan ini, et dech masih pelanga-pelongo lagi, lah masih baca juga, iya kamu, gak usah pake nengok-nengok kebelakang segala dech.
Pertanyaan saya : kalau kamu masih asik duduk manis depan komputer, lah itu yang jaga parkiran siapa ???
*berlalu sambil mencari kartu asuransi kendaraan*
............... 30 menit kemudian
- tersadar kalau hasil tulisan selama ini tak pernah ada yang berbobot, kapan bisa nyaingin tulisan Dewi Lestari ya, tapi saya tak berani masukan list penulisan dalam resolusi 2010, posisi sekarang jauh dari komputer. Dah ada listrik aja dah syukur -
ps : ditulis hari minggu, diposting hari senin
Belajar Gila ! (Episode 1-5)
Episode 1 : Sakit tubuhku tak sesakit otakmu.......... Senior di kantor (sebut saja namanya pak Iffan, memang nama sebenarnya).
" Wan, piye .... lancar semua?"
Lawan bicara : alhamdulillah pa, kemarenan kemana pa, sakit ?
Pemeran utama : iya, kena flu kemaren, kayanya gara-gara keujanan di SMA 70 itu...
Lawan bicara : Oalaaah, sakit toh ! loh tapi bukannya jadwalnya September ....
Pemeran utama : haH..... (sakit kok dijadwal)..
Lawan bicara : cicicuit lah pokoknya. -The End-
Episode 2 : Ada Apa Dengan Cendol (AADC)!
Sabtu, 7 November 09, di kampus tercinta …..
Sore itu sekitar jam 5:10, pelajaran terakhir sudah berlalu. Kami : Saya (iya saya, Et deh, dibilangin gak percaya), Raffi, Titis, Dina, temen titis, temen dina, temennya temen dina, temennya adiknya temen dina, sama adiknya temen temennya Titis, eh Dina. Dan berikut langsung saja pada berita selengkapnya. Lokasi : Depan Gedung Pasca Sarjana, cuaca agak mendung setengah mateng.
Titis : Mana Din, cowok u belum keliatan juga.
Dina : Tau nih, ya udah dech u pada duluan aja dech..
Raffi : Biasa dah, dah kita pada nungguin lama, akhirnya suruh duluan…..
10 menit berlalu ….dengan lontaran cerita, dari satu ke lainnya, deselingi canda tawa. Sementara 5 meteran dari sana, seorang penjual cendol dua kali lebih mendung dari awan tak bersahabat diatas sana, hanya berharap dagangannya masih ada yang menyapa….
Titis : Eh, tadi deket pintu masuk TOL BSD, gw kena insiden tau, jadi gini…. Bla.bla.bla..bla… Nah sebelum tuh motor korban jatuh ( Sebut saja korban bernama BUDI, bukan nama sebenarnya), spion gw nyerempet ke motornya. Pas gw niat turun, orang-orang juga pada ngerumunin tuh orang, dan ternyata dah “LEWAT”… Ya udah gw langsung tancep gas aja. Takut2 gw yang kena tuduh…
Raffi : Tapi emangnya begitu kan, soal spion tadi ?
Titis : cuman nyerempet doang, yang jadi masalahnya sih. Motor itu ditabrak Mobil dari belakang. Nah itu dia….bla….bla….bla…..bla…(pemirsa sekalian: saking cepetnya die ngomong, kita hanya menagkap suara bla..bla..bla nya saja, kami masih mencoba dengan bantuan gelombang radio sekalipun masih belum juga bisa tertangkap, jadi agak seperti bahasa alien. tapi berita baiknya, kami jamin, bla.bla..bla…bla itu sudah masuk kualitas STEREO kok )
Semua : Ooooooh..(dengan nada 7 ½ oktaf)
Awan : Oh…jadi masalahnya tuh motor bedua kena insiden gara-gara masuk TOL !
Titis : bukannya masuk, tapi deket pintu masuk…
Raffi : Yang deket fly over itu khan…
Titis : Iya…, makanya nih gw masih deg-dekan….,
Awan : Pantesan dari jam kedua tadi, kok diluar tadi berasa ada suara-suara sirine polisi ya…. Tadi juga ada ambulan lewat loh. Hmm..mungkin aja…..
Titis : Jiaaah, jangan gtu dong …
Dina : Lagian lo, bukannya nolongin malah nyibrit, yang penting kan niat kita baik dulu…
Titis : Iya, bukannya gak mau nolong. Nah klo gw nanti diteriakin gimana ?. Mending gw tancep gas aja. Tau dech tuh orang gimana nasibnya…
Awan : Iya, tau-taunya, lima menit mba Tia (Titis) meninggalkan TKP, pas mba Tia pergi itu ada suara gini “ OK, CUT !!!!” “ Kita break dulu “
Rafii : Jiaaa, jadi tuh si Titis di lokasi syut…..
Awan : Masuk tipiiiiii….
Sepuluh menit berlalu ……. Angin-angin masih menyisakan aura tawa mereka, mendung tak sempat lagi memberontak, keburu disergap si Azan Maghrib …-The End-
Episode 3 : Aye juge Cinte Jakarte kok Bang !
Saya sudah sering melihatnya dimana-mana, ia seperti hantu-hantu penjaga ibukota….
Di titian setapak jalan Thamrin, saya melihat dua orang
Disepanjang taman prapanca raya, saya menangkap dua sosok berlain jenis
Tapi satu hal yang saya cerna dari mereka :
Dedikasi tinggi, dan tak menyerah pada keadaan. Ini serius !
Di titian setapak jalan Thamrin, saya melihat dua orang
Disepanjang taman prapanca raya, saya menangkap dua sosok berlain jenis
Tapi satu hal yang saya cerna dari mereka :
Dedikasi tinggi, dan tak menyerah pada keadaan. Ini serius !
Tapi sungguh saya malu ….
Benar-benar malu ….
Dan malu-malu benar ……
Bersanding dan bersenda dengan mereka-meraka itu
Meski sebatas mengalirkan empati, serasa tak “pantas”
Hari itu .. mungkin itu saja dulu.
Benar-benar malu ….
Dan malu-malu benar ……
Bersanding dan bersenda dengan mereka-meraka itu
Meski sebatas mengalirkan empati, serasa tak “pantas”
Hari itu .. mungkin itu saja dulu.
Tapi siangnya, saya banyak temukan di sepanjang teras Medan Merdeka dan terus sampai Stasiun, Lapangan Banteng, Sela-sela pertokoan Wahidin, dan berujung di Gang- gang lebar sekitar Gunung Sahari.
Tapi saya masih menemukannya lagi, sekitar jatinegara dan sampai pasar tumpahnya.
Kini mereka tampak benar-benar dimana-mana !
Tapi saya masih menemukannya lagi, sekitar jatinegara dan sampai pasar tumpahnya.
Kini mereka tampak benar-benar dimana-mana !
Mentari kembali menyandera waktu, memaksa sore tampil kepermukaan,
Memaksa Ashar menjemput Petang ..
Saya masih juga menemukan mereka…
Makhluk apa ini … Manusia Kloning kah ?
Lantaran mereka serupa, hampir serupa bahkan …..
Dan dipemberhetian terakhir saya masih juga menemukannya …
Dengan sedikit diplomasi : Akhirnya satu spesies berhasil saya bujuk untuk dibawa pulang. Dengan skema hitam diatas putih, saya setengah berjanji saat itu.
Tapi pada akhir kisahnya : Toh saya gagal juga !
Mengangkat pamor mereka melebihi tetangganya itu, dengan seragam yang sama.
Sekarang, benar-benar malu saya…..
Memaksa Ashar menjemput Petang ..
Saya masih juga menemukan mereka…
Makhluk apa ini … Manusia Kloning kah ?
Lantaran mereka serupa, hampir serupa bahkan …..
Dan dipemberhetian terakhir saya masih juga menemukannya …
Dengan sedikit diplomasi : Akhirnya satu spesies berhasil saya bujuk untuk dibawa pulang. Dengan skema hitam diatas putih, saya setengah berjanji saat itu.
Tapi pada akhir kisahnya : Toh saya gagal juga !
Mengangkat pamor mereka melebihi tetangganya itu, dengan seragam yang sama.
Sekarang, benar-benar malu saya…..
-----------------------30 menit sebelum kejadian
Kamar Kost, 6:10 menit, Awal Pekan.“Wan, nanti kalo ada tukang sapu bawa satu ya”.
Siiip !
Sore harinya :
“Nih bang”. (Sebut saja namanya Fadly, memang nama sebenarnya sih).
Fadly : Gimana sih, lo kira disini stadion apa ?
Korban : Gimana ini pak, saya akan tuntut kalian dengan laporan perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran nama baik dan Ehhhh…..pokoknya pasal berlapis-pis lah.
Fadly : Sinih..(orang padang tapi berlogat jayakarta), tadi gw suruh nya apaaan..
Awan : Tadi kan Om (saya biasa memanggilnya begitu) nyuruhnya begitu. Wan kalo ada tukang sapu bawa kesini satu.
Fadly : Iya, kalo ada bawa satu dan lagian juga sapunya, bukan abang-abangnya sekalian. Nah ini siapa coba ?
Awan : Abang sapu nya khan, Loh bang mana dagangannya ? ketinggalan tadi ya diterminal, aduh maaf saya nariknya buru-buru tadi…
Korban : Sialan..gw dibilang tukang sapu.
Awan : Loh…emang ?
Korban : Lo liat nih .. (korban memunggungi pelaku dengan terus memegangi ponsel bermerek aneh “MOTOBOLA”.
Fadly : Nah lo baca tuh …
Awan : Hah..”BAMBANG PAMUNGKAS”. Aduh maaf-maaf ya bang, saya salah nyeret orang, lagian abang kok diem aja….. mungkin ketuker tadi di depan stadion Lebak Bulus ya..maaf ya bang….lagian seragamnya mirip kok, gantengan yang tadi malah.
Korban : Ah, dasar lo nya aja. Gw aja baru sadar tadi, gw lagi asik jalan sambil esemsesan kok tau-taunya disini…. Sini gw minta ongkos balik lagi kesana, goceng !
Fadly : Jiaaaa, jadi ini si abang nya juga baru Ngeh…wualaaah
Fadly : Dah salah niat bawa tukang sapu loh wan, masih salah juga lagi. Malah bawa pendukung PERSIJA. Dasar bego kuadrat lo (bahasa ini jangan dikutip, ini bahasa mantan preman) …..-The End-
Episode 4 : Kugadaikan Malu ku
Lokasi : kampus, jam istirahat siang, di café lesehan tercinta.
Andri : dah pada mesen apaan gih …
Awan : Iya, denger2 ada yang ulang taon nih
Raffi : Siapah (cengar/ir)
Andri : Biar lo aja yang nulis pesenan nya fi…
Bla…bla..bla..bla….
Awan : Dah lama kerja disini mas
Raffi : sialan lo .. (adik2, sekali lagi bahasa ini jangan diitiru, ini bahasa terminal )
Awan : (menyaksikan kekhusu’an Andri menyaksikan sinetron tipi), wah si Andri balas dendam nih, dirumahnya dua hari mati lampu kayanya…..
pada ketawa … bla..bla…bla…dan…bla..ba..bla..sekali lagi .bla…bla…bla….
Hery : Solat dimana nih ? atas aja dech. Disni kayanya gak cukup.
Awan : aduh fi, sebelumnya makasih nih……
Acara makan-makan pun selesai, tinggal bayar, dan memakai sepatu kemudian, tempat makannya lesehan gtu khan ….
Tiba-tiba, ditengah jalan, hampir-hampir menjangkau ujung teras tuh rumah makan …
Andri : Fi, tuh hape lo ketinggalan, pake dipajang segala lagi,
Awan : gak usah segitunya fi, hape sampai di gadai juga. Wah si raja tega emang.
Akhirnya para pelaku kembali pada rutinitas akhir pekannya. Kembali berkutat dengan isi buku dan rumus-rumus yang tak sampai 10 menitan akan hinggap dan menari-nari dikepala mereka. ce ileeh bahasanyah –The End-
Episode 5 : aku cin(T)a kakasenior
dipertigaan pertama :"depan kiri ya bang".
trak lurus berikutnya : "kiri-kiri.....kiri"
prapatan McD : pinggir ya bang ....
tikungan lapangan terbang : "bangStooooooop !"
waktu terus berlalu, pengemudi lirik2 spion, penumpang lirak-lirik spion juga (maksudnya?)
singkat cerita, kami hanya tinggal bedua dalam angkutan itu, karena macet, mobil ambil arah lain dan memutar kearah komplek kampus muhamadiyah.
Awan : wiih, kok sepatu kita bisa sama ya
wanita misterius : iyah....
Awan : (dalam hati), jangan2 kita jodoh, selera aja dah sama.
wanita misterius : pulang kuliah ?
Awan : iya, eh mba anak akuntansi juga ya ? soalnya tempat naiknya tadi sama dech.
wanita misterius : iya, akuntansi 5, eh kita belum kenalan, saya Lusi.
Awan : Kurniawan
pembicaraan mulai menghangat, sebabnya juga kita juga ngelewati : tukang sate, pecel lele, terakhir gardu PLN dech kayanye.
wanita setengah misterius (eh Lusi) : iya, tadinya saya mau ambil sastra. bla..bla..bla....
iya sastra inggris.....bla..bla...bla....
sampai sini lupa, dimana hal gilanya ya ..... tapi sabtu besok tak tongkrongin lagi ah, sapa tau rejeki. ya gak coy !
Hmm ... dua bulan gak geratakin blog sendiri, balas dendam dech jadinya ....
kalo ada yang punya cerita lebih gila lagi, kirim ke :

kami akan pertimbangkan untuk diajukan ke Mahkamah Konstitusi ...*loh
mo bw dulu ah .....
awan2 yg lain Pintu PersaHabatan
Subscribe to:
Posts (Atom)



























































